Minggu, 10 Juni 2012

cerita si oon (2)

Bahkan sebelum lahir, si Oon sudah mulai menampak kan perangai aslinya. Sejak siang hari dia memaksa keluar dari dunia kecil di dalam kasih sayang ibunya. Bahkan ketika malam mendekati pergantian hari, si Oon masih saja hanya ‘memaksa keluar’ tapi tidak juga keluar-keluar. Sepertinya dia memang menunggu saat-saat yang tepat untuk mengabadikan tanggal dan jam munculnya dia di muka bumi ini.

Sekarang sudah menunjukkan jam 02.30 hari jumat. Si Oon belum juga benar-benar serius ingin melihat dunia barunya. Mungkin dia menunggu kedatangan bapaknya yang sejak jam satu malam tadi berdoa di mushalla rumah sakit ini, mendoakan keselamatan untuk istrinya, berdoa untuk anaknya, berdoa supaya diberikan anak yang soleh atau solehah, anak yang nantinya patuh pada kedua orang tuanya, anak yang tidak akan menyusahkan orang tuanya nantinya, karena bahkan belum lahir spertinya dia sudah diberi tanda-tanda bahwasanya anaknya akan sedikit ‘kreatif’.

Betul saja, pukul 04.50 subuh si Oon mulai serius untuk melihat dunia ini. Sepertinya dia memang merencakan untuk lahir di subuh hari jumat ini. Mungkin dia telah berfikir sejak kemaren sore kalau lahir di malam jumat itu tidak keren. Masak dia lahir di malam jumat, apalagi kalau itu malam jumat kliwon, bisa-bisa itu menjadi bahan olokan dari kawan-kawannya nantinya.

Tidak menunggu lama, hanya selang dua puluh menit sejak usaha Oon keluar di subuh hari ini, tepat saat azan subuh berkumandang di mesjid-mesjid kota ini, si Oon berhasil berjuang keluar dari dunia lamanya, tentu saja yang lebih banyak berjuang adalah ibunya. Sekarang itu sudah cukup keren untuk si Oon. Oon, lahir di hari jumat, hari besar bagi agama dia, lahir disaat azan sholat subuh mulai berkumandang di kotanya.

Merasa tidak cukup untuk lahir di hari jumat subuh, si Oon melengkapi cerita kelahirannya dengan memberikan kejutan pertamanya untuk keluarganya. Oon lahir tidak menangis. Belum menangis tepatnya, tapi itu bukan kejutannya. Si Oon lahir dengan kepala duluan keluar, itu juga bukan kejutannya karena itu hal biasa. Si Oon lahir tidak seperti bayi kebanyakan. Dia lahir dengan tubuh dibungkus oleh selaput, sehingga dia muncul ke dunia ini berbentuk seperti telur. Tentu saja tidak bulat dan keras seperti telur ayam, karena pembungkusnya juga bukan kalsium karbonat seperti yang terdapat pada kulit telur ayam.

Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk menyanyikan tangisan pertamanya. Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk meneriakkan ucapan syukurnya atas kesempatannya untuk hidup di bumi. Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk bertakbir atas kebesaran Tuhan yang mengizinkannya mencicipi sedikit kenikmatan di dunia. Saat kulit pembungkus itu di potong, saat air bungkusan itu berserakan, saat itulah si Oon kecil mulai menghirup nafas pertamanya. Dan saat itulah dia mengeluarakan tangisan pertamanya. Ucapan puji syukur bercampur teriakan takbir yang menyatu dengan tawa bahagia sehingga menghasilkan bunyi tangisan kecil yang lantang. Tentu saja hanya si Oon yang menangis saat itu, karena semua keluarga yang menunggu sejak kemarin siang menyambut kehadiran si Oon dengan tangisan bahagia.