Bahkan sebelum lahir, si Oon sudah mulai menampak kan perangai aslinya. Sejak siang hari dia memaksa keluar dari dunia kecil di dalam kasih sayang ibunya. Bahkan ketika malam mendekati pergantian hari, si Oon masih saja hanya ‘memaksa keluar’ tapi tidak juga keluar-keluar. Sepertinya dia memang menunggu saat-saat yang tepat untuk mengabadikan tanggal dan jam munculnya dia di muka bumi ini.
Sekarang sudah menunjukkan jam 02.30 hari jumat. Si Oon belum juga benar-benar serius ingin melihat dunia barunya. Mungkin dia menunggu kedatangan bapaknya yang sejak jam satu malam tadi berdoa di mushalla rumah sakit ini, mendoakan keselamatan untuk istrinya, berdoa untuk anaknya, berdoa supaya diberikan anak yang soleh atau solehah, anak yang nantinya patuh pada kedua orang tuanya, anak yang tidak akan menyusahkan orang tuanya nantinya, karena bahkan belum lahir spertinya dia sudah diberi tanda-tanda bahwasanya anaknya akan sedikit ‘kreatif’.
Betul saja, pukul 04.50 subuh si Oon mulai serius untuk melihat dunia ini. Sepertinya dia memang merencakan untuk lahir di subuh hari jumat ini. Mungkin dia telah berfikir sejak kemaren sore kalau lahir di malam jumat itu tidak keren. Masak dia lahir di malam jumat, apalagi kalau itu malam jumat kliwon, bisa-bisa itu menjadi bahan olokan dari kawan-kawannya nantinya.
Tidak menunggu lama, hanya selang dua puluh menit sejak usaha Oon keluar di subuh hari ini, tepat saat azan subuh berkumandang di mesjid-mesjid kota ini, si Oon berhasil berjuang keluar dari dunia lamanya, tentu saja yang lebih banyak berjuang adalah ibunya. Sekarang itu sudah cukup keren untuk si Oon. Oon, lahir di hari jumat, hari besar bagi agama dia, lahir disaat azan sholat subuh mulai berkumandang di kotanya.
Merasa tidak cukup untuk lahir di hari jumat subuh, si Oon melengkapi cerita kelahirannya dengan memberikan kejutan pertamanya untuk keluarganya. Oon lahir tidak menangis. Belum menangis tepatnya, tapi itu bukan kejutannya. Si Oon lahir dengan kepala duluan keluar, itu juga bukan kejutannya karena itu hal biasa. Si Oon lahir tidak seperti bayi kebanyakan. Dia lahir dengan tubuh dibungkus oleh selaput, sehingga dia muncul ke dunia ini berbentuk seperti telur. Tentu saja tidak bulat dan keras seperti telur ayam, karena pembungkusnya juga bukan kalsium karbonat seperti yang terdapat pada kulit telur ayam.
Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk menyanyikan tangisan pertamanya. Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk meneriakkan ucapan syukurnya atas kesempatannya untuk hidup di bumi. Bungkusan berair inilah yang menahan si Oon untuk bertakbir atas kebesaran Tuhan yang mengizinkannya mencicipi sedikit kenikmatan di dunia. Saat kulit pembungkus itu di potong, saat air bungkusan itu berserakan, saat itulah si Oon kecil mulai menghirup nafas pertamanya. Dan saat itulah dia mengeluarakan tangisan pertamanya. Ucapan puji syukur bercampur teriakan takbir yang menyatu dengan tawa bahagia sehingga menghasilkan bunyi tangisan kecil yang lantang. Tentu saja hanya si Oon yang menangis saat itu, karena semua keluarga yang menunggu sejak kemarin siang menyambut kehadiran si Oon dengan tangisan bahagia.
Minggu, 10 Juni 2012
Minggu, 22 April 2012
cerita si oon (1)
Hari itu hari kamis biasa seperti
hari-hari kamis sebelumnya. Cahaya matahari mulai muncul dari balik gunung yang
berdiri menantang langit yang sedikit di balut awan di pinggangnya. Itu memang
hanya cahaya matahari, tanpa mataharinya. Karena butuh waktu 3 jam lagi untuk
matahari itu menampakan diri di kota ini. Bukan karena mataharinya yang
malas-malasan bangun menyapa makhluk-makhluk di kota ini seperti kebanyakan
anak muda di kota ini, tetapi dikarenakan dia harus cukup tinggi untuk
mengimbangi tingginya gunung yang slalu menghalangi pandangannya seperti
pagi-pagi yang sudah-sudah. Pagi yang hangat di kota kecil ini yang disambut
suara ayam-ayam jantan yang saling menyapa satu sama lainnya. Mungkin suara teriakan
bersyukur karena malamnya dia tidak di tangkap oleh tuannya yang berarti harus
dibawa ke pasar untuk di potong. Mungkin juga itu suara teriakan kerinduannya
pada ayam betina tetangga. Hm, hati ayam siapa yang tahu.
Siang harinya juga tidak jauh
berbeda dengan hari-hari kamis yang sudah-sudah. Matahari yang berjalan dengan
santai di jalur yang sudah di tetapkan sedari dulunya, tepat di atas kota kecil
ini. Matahari yang lebih sering bersembunyi di balik awan, dikarenakan kota ini
ditakdirkan sebagai tempat berkumpulnya awan-awan. Tak peduli apakah itu musim
kemarau maupun musim hujan, awan-awan ini selalu berkumpul di atas langit kota
ini. Sesekali turun berupa bulir-bulir air menyirami makhluk-makhluk Tuhan di
darat, air maupun udara, diiringi puji syukur oleh mereka yang senantiasa
bersukur.
Siang hari yang sibuk di kota
kecil ini. Siang hari disawah yang di warnai suara mesin traktor yang baru, dan
suara lenguhan kerbau yang lagi bad mood karena dari tadi kerjanya di
banding-bandingkan dengan kerja traktor petani sebelah. Siang hari di sekolah
yang diwarnai teriakan murid-murid yang ribut berebutan makanan kecil di
kantin, dan diselingi teriakan guru melerai muridnya yang baru saja bertengkar meributkan
mimpi siapa yang lebih hebat tadi malam. Siang hari di pasar dimana para
penjual buah berteriak-teriak meyakinkan ibu-ibu kalau buah yang di jual nya
dijamin manis, diiringi suara ibu-ibu yang sudah 15 menit dari tadi beradu suara
dengan penjual sepatu meminta diberi diskon dua ribu rupiah lagi.
Begitu pula dengan sore harinya, seperti
pagi dan siang hari yang tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah, tentu saja
sore ini tidak jauh berbeda seperti sore-sore kamis sebelumnya. Sore yang
dingin, karena hujan baru saja berhenti mendinginkan kota ini (yang dari
dulunya memang sudah dingin). Sore hari, dimana saatnya matahari yang sejak
pagi memberikan kehangatan pada kota dingin ini, menghilang di balik kaki
gunung lainnya. Sore hari dimana saatnya tiga gunung yang mengapit kota ini bersiap
menikmati dinginnya malam, walaupun masing-masing dari gunung ini memiliki
selimut hutan yang masih lebat.
Ini memang kamis yang biasa. Tapi
tidak untuk keluarga yang satu ini. Keluarga yang sejak tadi siang sudah
berkumpul di Rumah Sakit Umum Daerah di kota ini. Keluarga yang sedang dilanda
kecemasan sekaligus kegembiraan yang membuncah. Keluarga besar yang sedang
menunggu tambahan anggota untuk meramaikan rumah
gadang. Keluarga besar yang sebagian dari mereka memang berbadan besar,
menunggu kelahiran seorang putra. Seorang putra yang kelak di panggil si ‘OON’.
Langganan:
Postingan (Atom)