Hari itu hari kamis biasa seperti
hari-hari kamis sebelumnya. Cahaya matahari mulai muncul dari balik gunung yang
berdiri menantang langit yang sedikit di balut awan di pinggangnya. Itu memang
hanya cahaya matahari, tanpa mataharinya. Karena butuh waktu 3 jam lagi untuk
matahari itu menampakan diri di kota ini. Bukan karena mataharinya yang
malas-malasan bangun menyapa makhluk-makhluk di kota ini seperti kebanyakan
anak muda di kota ini, tetapi dikarenakan dia harus cukup tinggi untuk
mengimbangi tingginya gunung yang slalu menghalangi pandangannya seperti
pagi-pagi yang sudah-sudah. Pagi yang hangat di kota kecil ini yang disambut
suara ayam-ayam jantan yang saling menyapa satu sama lainnya. Mungkin suara teriakan
bersyukur karena malamnya dia tidak di tangkap oleh tuannya yang berarti harus
dibawa ke pasar untuk di potong. Mungkin juga itu suara teriakan kerinduannya
pada ayam betina tetangga. Hm, hati ayam siapa yang tahu.
Siang harinya juga tidak jauh
berbeda dengan hari-hari kamis yang sudah-sudah. Matahari yang berjalan dengan
santai di jalur yang sudah di tetapkan sedari dulunya, tepat di atas kota kecil
ini. Matahari yang lebih sering bersembunyi di balik awan, dikarenakan kota ini
ditakdirkan sebagai tempat berkumpulnya awan-awan. Tak peduli apakah itu musim
kemarau maupun musim hujan, awan-awan ini selalu berkumpul di atas langit kota
ini. Sesekali turun berupa bulir-bulir air menyirami makhluk-makhluk Tuhan di
darat, air maupun udara, diiringi puji syukur oleh mereka yang senantiasa
bersukur.
Siang hari yang sibuk di kota
kecil ini. Siang hari disawah yang di warnai suara mesin traktor yang baru, dan
suara lenguhan kerbau yang lagi bad mood karena dari tadi kerjanya di
banding-bandingkan dengan kerja traktor petani sebelah. Siang hari di sekolah
yang diwarnai teriakan murid-murid yang ribut berebutan makanan kecil di
kantin, dan diselingi teriakan guru melerai muridnya yang baru saja bertengkar meributkan
mimpi siapa yang lebih hebat tadi malam. Siang hari di pasar dimana para
penjual buah berteriak-teriak meyakinkan ibu-ibu kalau buah yang di jual nya
dijamin manis, diiringi suara ibu-ibu yang sudah 15 menit dari tadi beradu suara
dengan penjual sepatu meminta diberi diskon dua ribu rupiah lagi.
Begitu pula dengan sore harinya, seperti
pagi dan siang hari yang tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah, tentu saja
sore ini tidak jauh berbeda seperti sore-sore kamis sebelumnya. Sore yang
dingin, karena hujan baru saja berhenti mendinginkan kota ini (yang dari
dulunya memang sudah dingin). Sore hari, dimana saatnya matahari yang sejak
pagi memberikan kehangatan pada kota dingin ini, menghilang di balik kaki
gunung lainnya. Sore hari dimana saatnya tiga gunung yang mengapit kota ini bersiap
menikmati dinginnya malam, walaupun masing-masing dari gunung ini memiliki
selimut hutan yang masih lebat.
Ini memang kamis yang biasa. Tapi
tidak untuk keluarga yang satu ini. Keluarga yang sejak tadi siang sudah
berkumpul di Rumah Sakit Umum Daerah di kota ini. Keluarga yang sedang dilanda
kecemasan sekaligus kegembiraan yang membuncah. Keluarga besar yang sedang
menunggu tambahan anggota untuk meramaikan rumah
gadang. Keluarga besar yang sebagian dari mereka memang berbadan besar,
menunggu kelahiran seorang putra. Seorang putra yang kelak di panggil si ‘OON’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar