Minggu, 22 April 2012

cerita si oon (1)


Hari itu hari kamis biasa seperti hari-hari kamis sebelumnya. Cahaya matahari mulai muncul dari balik gunung yang berdiri menantang langit yang sedikit di balut awan di pinggangnya. Itu memang hanya cahaya matahari, tanpa mataharinya. Karena butuh waktu 3 jam lagi untuk matahari itu menampakan diri di kota ini. Bukan karena mataharinya yang malas-malasan bangun menyapa makhluk-makhluk di kota ini seperti kebanyakan anak muda di kota ini, tetapi dikarenakan dia harus cukup tinggi untuk mengimbangi tingginya gunung yang slalu menghalangi pandangannya seperti pagi-pagi yang sudah-sudah. Pagi yang hangat di kota kecil ini yang disambut suara ayam-ayam jantan yang saling menyapa satu sama lainnya. Mungkin suara teriakan bersyukur karena malamnya dia tidak di tangkap oleh tuannya yang berarti harus dibawa ke pasar untuk di potong. Mungkin juga itu suara teriakan kerinduannya pada ayam betina tetangga. Hm, hati ayam siapa yang tahu.
Siang harinya juga tidak jauh berbeda dengan hari-hari kamis yang sudah-sudah. Matahari yang berjalan dengan santai di jalur yang sudah di tetapkan sedari dulunya, tepat di atas kota kecil ini. Matahari yang lebih sering bersembunyi di balik awan, dikarenakan kota ini ditakdirkan sebagai tempat berkumpulnya awan-awan. Tak peduli apakah itu musim kemarau maupun musim hujan, awan-awan ini selalu berkumpul di atas langit kota ini. Sesekali turun berupa bulir-bulir air menyirami makhluk-makhluk Tuhan di darat, air maupun udara, diiringi puji syukur oleh mereka yang senantiasa bersukur.
Siang hari yang sibuk di kota kecil ini. Siang hari disawah yang di warnai suara mesin traktor yang baru, dan suara lenguhan kerbau yang lagi bad mood karena dari tadi kerjanya di banding-bandingkan dengan kerja traktor petani sebelah. Siang hari di sekolah yang diwarnai teriakan murid-murid yang ribut berebutan makanan kecil di kantin, dan diselingi teriakan guru melerai muridnya yang baru saja bertengkar meributkan mimpi siapa yang lebih hebat tadi malam. Siang hari di pasar dimana para penjual buah berteriak-teriak meyakinkan ibu-ibu kalau buah yang di jual nya dijamin manis, diiringi suara ibu-ibu yang sudah 15 menit dari tadi beradu suara dengan penjual sepatu meminta diberi diskon dua ribu rupiah lagi.
Begitu pula dengan sore harinya, seperti pagi dan siang hari yang tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah, tentu saja sore ini tidak jauh berbeda seperti sore-sore kamis sebelumnya. Sore yang dingin, karena hujan baru saja berhenti mendinginkan kota ini (yang dari dulunya memang sudah dingin). Sore hari, dimana saatnya matahari yang sejak pagi memberikan kehangatan pada kota dingin ini, menghilang di balik kaki gunung lainnya. Sore hari dimana saatnya tiga gunung yang mengapit kota ini bersiap menikmati dinginnya malam, walaupun masing-masing dari gunung ini memiliki selimut hutan yang masih lebat.
Ini memang kamis yang biasa. Tapi tidak untuk keluarga yang satu ini. Keluarga yang sejak tadi siang sudah berkumpul di Rumah Sakit Umum Daerah di kota ini. Keluarga yang sedang dilanda kecemasan sekaligus kegembiraan yang membuncah. Keluarga besar yang sedang menunggu tambahan anggota untuk meramaikan rumah gadang. Keluarga besar yang sebagian dari mereka memang berbadan besar, menunggu kelahiran seorang putra. Seorang putra yang kelak di panggil si ‘OON’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar